sasamboku

sasamboku

Kapolda : Pilkada dan Filsafat Balap Kuda

Lombok Tengah, sasambonews.com- Kapolda NTB Brigjen Pol Firly mengatakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) diibaratkan dengan Balap Kuda. Balap Kuda dan Pilkada memiliki makna filosofi tersendiri.

Seorang pembalap tidak melihat siapa lawan dan siapa yang cepat lari dan yang lambat larinya, namun tetap focus ke depan. Meski star awalnya Kuda yang dimilikinya berada di paling buncit, bukan berarti kalah dan tidak bisa memenangkan perlombaan, sebaliknya walaupun kuda kita berada di paling depan bukan berarti tidak bisa disalip oleh lawan. Yang paling pentning adalah fokus menatap kedepan tanpa harus melihat siapa lawan yang dihadapi.

Jadi pelajaran pertama yang dipetik dari itu adalah, kalau larinya satu putaran berada di palking bawah, maka bukan berarti disetengah putaran berakhir semuanya. Kalaupun lambat star kampanye bukan berarti kalah. Atau cepat larinya bukan otomatis akan menang. Oleh karena itu seorang calon kepala daerah harus fokus menatap ke depan tanpa mengurusi calon lain. Seorang calon harus fokus tujuan, fokus kepada perencanaan yang telah dibuat, fokus kepada strategi yang sudah dirancang Kepada calon bupati, gubernur. “Saya meminta tolong kepada peserta pilkada calon bupati dan gubernur serta legislatif agar fokus kepada tujuan tanpa harus mengganggu orang lain ataupun lawan sebab kalau menganggu lawan maka kita tidak akan fokus untuk mencapai tujuan ” ungkapnya saat menghadiri safari Kapolda NTB Peduli Umat dalam rangka mewujudkan terpeliharanya keamanan dan Ketertiban masyarakat menjelang pelaksanaan pemilukada serentak tahun 2018 di Becingah Adiguna Praya Rabu 20/12.

Selanjutnya, seekor kuda agar kuat dan lari kencang maka pemilik kuda harus memberikan makanan bergizi dan suplemen seperti makanan rumput, roti, vitamin, telur serta minuman bernutrisi tinggi seperti madu. Setelah itu melakukan traitment yakni Kuda dipijit pijit. Dalam Dalam hal ini Filosofi yang diambil adalah jika ingin menjadi juara maka tentu seorang calon harus mempersiapkan amnuisi atau bekal untuk menjadi juara. “tanpa suplemen, makanan bergizi maka kuda kita tak akan kuat lari, begitupula tanpa ada amunisi maka kita tidak akan bisa menang. Kalau mau kasi uang kasi semuanya namun kalau hanya bebebarapa orang dikasi, ya yang dikasi itu saja yang akan milih.Itu namanya planing, aktualiting, organizing, belajar dari pilosofi balap kuda” ungkap Kapolda.

Kapolda mengatakan seorang calon kepala daerah harus melihat lawan sebagai sahabat dan tidak menjadi saingan akan tetapi melihat lawat sebagai sahabat sebab kalau dianggap sebagai persaingan maka habis waktu untuk menggangu lawan sehingga tidak fokus kepada tujuan yang sudah dibuat. “Jadikan lawan kita untuk teman kita sebab kalau kita anggap kompetitor kita menjadi pesaing kita maka kita akan habis tenaga dan terakhir kita rubah kompetitor kita menjadi sahabat atau teman kita” jelasnya.

Selanjutnya kata kapolda NTB, seseorang calon harus dikenal, disayang dan mau berbagi kepada masyarakatnya, makanya dalam kegiatan safari ini dirinya membuat tema Love, Care and Share. Seseorang itu harus dicintai, setelah dicintai maka dia harus peduli sebab kalau tidak peduli maka dia tidak akan cintai dan kemudian seseorang calon harus mau berbagi. “Siapapun yang terpilih nanti adalah ada PR yang harus diselesaikan yakni mengembalikan kekuatan daerah menuju daerah yang maju makmur dans ejahtra” tegasnya. Am



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kapolda : Pilkada dan Filsafat Balap Kuda"

Post a Comment