Lalu Pahrurrozi ingin Bertani dan Bertenak di MotoGP

Lalu Pahrurrozi saat di Amerika Serikat
Ketua Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) NTB Lalu Pahrurrozi, menunjukkan keseriusannya maju sebagai calon Bupati Lombok Tengah pada Pilkada 2020 mendatang. Keseriusan tersebut ditunjukkan dengan membuat serial tulisan gagasan atau narasi tentang arah pembangunan yang akan dilakukan jika ia terpilih nanti.

Melalui akun facebooknya, Oji sapaan akrabnya, menuliskan apresiasinya terhadap hasil pembangunan yang telah dilakukan oleh Suhaili selaku Bupati Lombok Tengah saat ini maupun kepada bupati-bupati sebelumnya.  Oji menuliskan gagasannya tentang peluang hidupanya sektor pertanian dan peternakan di saat KEK Mandalika maupun MotoGP mulai beroperasi.

Berikut status lengkap yang dituliskan Ojo melalui akun facebooknya Lalu Pahrurrozi.  

BERTANI dan BETERNAK DI MOTOGP :
Pariwisata KEK mesti menyerap komoditas pertanian setempat.

Pasca Suhaili memimpin Lombok Tengah, apa yang mesti dilakukan? Jawabannya : Banyak....
Dan disini saya ingin urun rembug.

Suhaili dan pemimpin sebelumnya telah banyak bekerja. Banyak hasil yang kita nikmati. Utamanya dengan keberadaan BIL, KEK Mandalika, pembangunan infrastruktur jalan, poltekpar, pemindahan kantor, desa wisata dll. Tentu bagi sebagian orang, ada catatan kritis pada kepemimpinan Suhaili selama 2 periode. Dan mari kita melangkah ke depan.

KEK Mandalika dan MOTOGP yang direncanakan berjalan di 2021 bisa disebut momentum. Momentum  untuk kebangkitan pariwisata; juga kebangkitan pertanian?

Bagaimana bisa?

Sebagai gambaran perbandingan, kita anggaplah kabupaten Badung, Bali sebagai model; dan Lombok Tengah khusus nya akan menjadi penopang utama “Bali kedua”. Per 2017, PDRB Badung mencapai 52,3 T (Loteng 15,9 T). Sektor akomodasi - pariwisata di Badung mencapai 15,112 T - setara dengan hasil tambang Newmont - AMMAN Mineral (Loteng masih 201,7 Milyar). PAD Badung 4,1 T (Loteng 293 M). Orang miskin di Badung 2,06%  (Loteng 15,8%). Di badung, jumlah kamar hotel mencapai 24 ribuan; di Loteng belum seribu; dgn kata lain kita tertinggal 25 kali lipat.

Sekali lagi, MotoGP bisa menjadi peluang dan kesempatan. Seberapa banyak kita bisa mengejar ketertinggalan 25 kali lipat itu? Dengan rencana membangun 10 ribu kamar kita akan mengejar hampir setengah ketertinggalan itu. Estimasi PAD bisa menanjak menjadi 2T, gizi ekonomi pariwisata yang beredar bisa tembus 7,5 T hanya dari akomodasi dan penginapan.

Tapi saat kesempatan itu tiba, dimanakah rakyat? Dimanakah kita?

Kita (warga) mesti masuk dalam rantai pembangunan itu, hulu sampai ke hilir.  Bukan hanya di rantai pariwisata dalam bentuk jasa kepariwisataan; tapi sebagai pembentuk market, pariwisata mesti menjadi “prime-over” bagi sektor perekonomian lainnya, khususnya pertanian-peternakan, yang menyerap 37% tenaga kerja, yang juga menjadi pusat kemiskinan.

Disanalah pentingnya integrasi. Integrasi pertanian-pariwisata sering diceritakan, tapi belum banyak dibuktikan. Itu yang mesti kita siapkan. Gagasan integrasi ini mesti “dipertentangkan”, “dikuliti”, “dikupas” hingga skala mikro, skala terkecilnya, agar pertentangan itu ditulis menjadi MONUMEN janji setiap kandidat. Dan MONUMEN itu tertuang dalam APBD Bayangan, atau minimal Rencana Pembangunan Bayangan. Jadi warga bisa bebas membaca pikiran kita, kemudian menilainya, dan mengambil kesimpulan.

Agar kita, memilih figur beserta hati dan fikirannya.

To Be Continued....

#LombokTengah2020

Salam
Lalu Pahrurrozi

Postingan tersebut mendapat respon beragam dari netizen dan menunggu serial berikutnya. (end)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Lalu Pahrurrozi ingin Bertani dan Bertenak di MotoGP"

Post a Comment