Pendidikan dan Kebudayaan
LOMBOK TENGAH (23/3)-Kisruh Pondok Pesantren Zainul Mustafa
Pengadang cukup memprihatinkan kalangan pondok pesantren pasalnya, yang
bersetru ini adalah saudara antara pendiri yayasan Mahyun dan ketua yayasan
Zainudin. Keduanya dikabarkan masih bersaudara kandung satu bapak. Pesteruan
kedua petinggi yayasan tersebut membuat kprihatinan tersendiri dari Kepala
Kantor kementrian Agama kabupaten Lombok Tengah. “Kita sangat prihatin dengan polemik
ini, seharusnya tidak terjadi peseteruan itu apalagi yang beseteru adalah sesame
saudara” kata Drs. H. Nasri Anggara, MA di rumah sakit saat mengitu apel PPNI kemarin.
Kisruh Ponpes Zainul Mustafa NW Pengadang, Siswa Dikorbankan
Menurutnya peseteruan kedua orang berpengaruh di yayasan itu
telah berdampak buruk pada siswa, sebab bagaimanapun peseteruan itu
mempengaruhi proses belajar mengajar di sekolah itu. “Jelas berpengaruh kepada
siswa, yang berseteru ini adalah pengurus yayasan sehingga yang jadi korban
adalah anak didik” jelasnya.
Pihak Kemenag sendiri sudah berusaha menyelesaikan komplik
internal tersebut namun tidak berhasil. Untuk menuntaskan hal itu maka kasusnya
diambil alih oleh pihak kemenag provinsi. “jadi pak Mahyun yang harus
dipindahkan ke Lombok barat, sekarang sudah bertugas, jadi sudah tidak ada
masalah” jelasnya.
Untuk diketahui kata Nasri, kakak beradik itu sudah sepakat
untuk memegang tingkatan pendidikan dimana Mahyun selaku adik memegang
Tsanawiyah dan RA semetara Zainudin selaku kakak memegang Madrasah Ibtidaiyah
dan Madrasah Aliyah namun Zainudin gusar karena Mahyudin membikin yayasan
sendiri dan membawa murid Tasanawiyah ke gedung baru. Selain itu Mahyun
dituding tidak transparan soal dana yayasan Akibatnya Mahyun dipecat Zainudin
namun setelah pihak Kemenag turun tidak ditemukan indikasi adanya penggelapan
dana. “Kita sudah cek kelapangan dan menanyakan langsung ke bersangkutan, dan
memang tidak ada indikasi adanya penyimpangan dana atau tidak transaparan,
semua anggaran dana yayasan sudah dilaporkan ke pihak yayasan” kata Nasri.
Dia berharap kasus semacam ini tidak terjadi ditempat lain
karena yang akan menjadi korban adalah siswa itu sendiri. “Kita berharap
kejadian di Pengadang adalah yang pertama dan terakhir, kita tidak ingin karena
peseteruan pengurus lalu anak anak akan jadi korban” jelasnya. 01
Posting Komentar